Rabu, 10 April 2013

Persib Dan Cinta

Untuk beberapa orang, mereka pasti mengenal sepakbola sejak kecil, di sekitaran umur lima atau enam tahun. Perkenalan yang terjadi secara naluriah atau jika harus secara terpaksa karena lingkungan. Lingkungan perlahan memaksa mereka yang tidak suka akan sepakbola menjadi mau tidak mau menyukainya. Setidaknya melirik, jikapun tetap harus benar – benar tidak menyukai sepakbola.




Untuk sebagian besar orang Bandung, cepat atau lambat, suka atau tidak suka, mereka pasti akan mendengar satu nama, yaitu Persib. Tim bola terbesar, identitas bagi kota Bandung, yang bahkan bagi sebagian orang adalah nafas dan harapan hidup.

Perkenalan paling sederhana akan terjadi di lingkup keluarga, biasanya orangtua akan mengenalkan apa itu Persib, mengajak menonton Persib ke stadion, dan bercerita tentang semua kenangan manis di masa lalu tentang bagaimana tim ini merupakan sebuah warisan budaya yang harus dijaga nama baiknya.

Jika kita berasal dari keluarga yang tidak menyukai Persib, perkenalan akan segera terjadi di lingkungan sekolahan atau lingkungan rumah kita. Ketika kita TK, atau ketika mulai menginjakan kaki di bangku Sekolah Dasar, kita akan sesegera mungkin menjadi paham, minimal menjadi tahu tentang Persib.

Apabila kedua tahap itu belum juga kita temukan dalam fase hidup kita, Perkenalan yang paling buruk tentang Persib pasti akan terjadi ketika kita terjebak pada kondisi mayoritas orang di lingkungan kita yang menyukai Persib, dan menjadikan hal itu adalah hal ‘keren’, lalu kita terpaksa ikut suka agar bisa dibilang keren juga. Ini keadaan yang sebenarnya sedikit absurd tetapi pada beberapa kasus memang terjadi.

Kebetulan saya merupakan tipe manusia di kategori yang pertama, suka Persib melalui jalur orang tua yang bercerita. Sejak kecil rasa kebanggaan itu menjadi tertanam. Hingga pada akhirnya, puncak dari segala puncak kebahagiaan itu terjadi ketika untuk pertama kalinya bisa ngalalajoanan Persib mengbal di stadion(melihat Persib bermain di stadion). Pertama kalinya saya ke stadion melihat Yaris Riyadi muda yang sedang digadang-gadang menjadi pemain muda potensial pengganti sang maestro Yusuf Bachtiar. Saya masih sangat ingat bagaimana gerak gerik Yaris muda saat itu, pemanasan di sentelban stadion Siliwangi, sambil sesekali melihat para seniornya bermain dilapangan dengan gesture yang harap – harap cemas ingin dimainkan.

Kaget, senang, bangga, aneh, culang-cileung. Ini perasaan saya ketika pertama kali bisa melihat Persib langsung di stadion. Saya yakin semua orang yang untuk pertama kalinya menonton Persib langsung di stadion pasti mempunyai kesan dan pengalaman yang aneh dan berbeda-beda.

Hari berlalu dan berganti. Banyak pertandingan Persib berhasil dilalui. Diluar itu, dalam kehidupan normal, pelan-pelan kita akan menemukan kisah percintaan dalam hidup. kisah cinta yang pada beberapa kasus menghadapkan kita pada sebuah pilhan sulit. Bagaimanapun, tidak semua pasangan yang kita cintai menyukai sepakbola dan Persib.

Akan ada beberapa pasangan yang dalam hidupnya terlibat dalam percakapan “jadi kamu lebih memilih nonton Persib?”, atau dalam keadaan terburuk kita akhirnya sampai di percakapan “yaudah, sekarang pilih aku atau Persib?”.

Menyebalkan, ya, sangat menyebalkan. Bagaimana mungkin kita dipaksa memilih untuk mengesampingkan hal yang sudah tertanam sejak kecil didalam hati dan pikiran. Bagaimana mungkin semua perjuangan dan cerita indah berjuang masuk ke stadion sejak kecil harus tiba-tiba dihadapkan dengan pilihan seperti “pilih aku atau Persib?”. Semua ini harusnya bukan menjadi pilihan karena bagaimanapun keduanya akan tetap penting.

Maka, beruntunglah bagi yang mempunyai pasangan yang teramat sangat mengerti tentang hal ini. Pasangan yang mengerti bahwa menonton Persib adalah perwujudan mimpi dan kecintaan yang telah terjadi saat kita kecil, bahkan jauh disaat kita mengenal pasangan kita saat ini. Cukup dengan “hati-hati ya di stadion, semoga Persib menang” akan membuat kita seperti mendapat tambahan energi di stadion.

Hal ter-beruntung yang paling beruntung adalah apabila kita dan pasangan kita sama-sama menyukai Persib. Kita bisa menonton bareng pertandingan Persib, mendukung Persib di stadion dan bersenang-senang merayakan kemenangan bersama kekasih sekaligus bersama bobotoh lainnya. Tidak akan ada kisah yang lebih menyenangkan dari ini. Jika kita sedang atau pernah melewati fase ini, fase dimana kita bisa bersama – sama pasangan kita di stadion, nikmatilah. Nikmati semua udara, nikmati semua flare yang menyala, nikmati semua terror terhadap tim lawan, nikmati nyanyian-nyanyian dari para bobotoh, nikmati lemparan air mineral terhadap wasit, nikmati semuanya. Karena jika kisah manis ini suatu saat harus terakhiri, setidaknya kita pernah menikmati masa – masa indah di stadion, duduk bersama pasangan yang kita cintai untuk melihat tim yang sangat kita cintai

repost by simamaung.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Viking Persib Club
Salam Satu Hati

Our Spirit For Persib
Viking Pekanbaru